Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 32-44 (Bag. 3): Azab yang Menarik Calon Ahli Neraka Menuju Surga
Dialog antara orang mukmin dan pemilik kebun kafir ini membuka pandangan tentang realita kenikmatan dunia. Kenikmatan itu Allah ﷻ karuniakan dari sisi-Nya tanpa ada kuasa sedikitpun di sisi hamba. Oleh karena itu, mudah sekali bagi Allah ﷻ untuk membalikkan kenikmatan menjadi derita penuh siksa.
Akan tetapi, sebuah azab tidak diturunkan melainkan mengandung hikmah. Karena azab adalah bagian dari perbuatan Allah ﷻ yang penuh pelajaran dan kebaikan. Dialah Al-Hakim dan Al-Alim, begitupula Dialah Al-Lathif. Maka, tidak ada keraguan bagi kita untuk dapat mengambil hikmah kehidupan lainnya dari sepotong kisah ini.
Pertemanan karena urusan dunia tidak akan setia
Setelah Allah ﷻ turunkan azab dari langit, maka seluruh harta benda yang dibanggakan si pemilik kebun porak-poranda dan benar-benar hilang. Bahkan bukan hanya harta bendanya saja, tetapi para pengikut dan anak-anaknya yang ia banggakan pun meninggalkannya. Allah ﷻ berfirman,
وَلَمْ تَكُنْ لَهُ فِئَةٌ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنْتَصِرًا
“Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya.” (QS. Al-Kahfi: 43)
Artinya, kata para ahli tafsir seperti Ath-Thabari dan Al-Qurthubi, adalah tidak ada yang mampu menolongnya bila azab Allah ﷻ telah diberikan kepadanya. Kami mengambil pandangan bahwa ketika Allah ﷻ memberikan azab, semua pertemanan dan anak-anak yang dibanggakannya tidak lagi di sisinya. Ini adalah bentuk perginya kerabat yang dibanggakan, yakni ketika tidak ada lagi manfaat yang dirasa. Habis manis sepah dibuang. Jika di kondisi dunia saja sudah demikian, maka bagaimana lagi dengan keadaan di akhirat penuh hisab yang berat apalagi azabnya yang dahsyat?!
Allah ﷻ berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُمْ بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ
“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu. Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah), pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, semua wanita yang menyusui anaknya lalai terhadap anak yang disusuinya, dan semua wanita yang hamil gugur kandungan. Kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk. Akan tetapi adzab Allah itu sangat keras.” (QS. Al-Hajj:1-2)
Jangankan seorang follower kepada idolanya, bahkan seorang ibu kepada bayinya saja dapat ia tinggalkan ketika kiamat telah ditegakkan. Padahal, kasih ibu kepada anaknya sangat dikenal sebagai rasa kasih paling tinggi. Terlebih lagi ketika anaknya lemah seperti dalam keadaan masih bayi. Terlebih lagi dalam keadaan masih disusui, sungguh cinta ibu berada pada puncaknya kepada anak-anaknya. Namun, di masa itu, ibu pun dapat meninggalkan anak yang disusuinya.
Allah ﷻ juga gambarkan dalam firman-Nya,
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 34-37)
Allah ﷻ sebutkan bahwasanya di hari akhirat semua orang sibuk menyelamatkan dirinya sendiri. Tidak terpikirkan urusan orang lain. Maka, bagaimana lagi dengan seorang yang mengikuti atau menyenangi hanya karena alasan duniawi?! Tentu hal ini lebih lemah lagi. Ikatan biologis saja dapat terputus, apalagi ikatan yang muncul dari rasa takjub kepada harta.
Ini membuat perasaan si pemilik kebun jauh lebih terluka. Ia tertipu dengan kecintaan orang-orang yang mengikutinya. Ia tak sadar bahwa kecintaan itu dikarenakan harta yang dititipkan kepadanya, bukan karena kemuliaan dirinya. Ini pula menjadi jawaban atas keangkuhannya, bahwa dirinya diberikan nikmat seperti pengikut yang setia dikarenakan dirinya yang mulia.
Tidak ada alasan bagi kita sombong di hadapan Allah ﷻ dan berbangga dengan apa yang kita miliki. Karena semuanya akan sirna dengan mudahnya. Bahkan sebelum hari kiamat ditegakkan, ujian dunia yang biasa-biasa saja bisa membuat semua orang meninggalkan kita. Hal ini juga menjadi pelajaran untuk tidak bergantung dengan manusia.
Baca juga: Seluk Beluk Neraka
Azab yang menarik calon ahli neraka menuju surga
Allah ﷻ menggambarkan keterpurukan si pemilik kebun kafir dengan luar biasanya. Keadaannya berbalik dengan begitu cepatnya dan begitu dalamnya. Namun, sungguh indah apa yang dituliskan As-Si’dy dalam tafsirnya (5: 963) yang dinukilkan sebagiannya dalam Tafsir Al-Quran Tadabur wa Amal,
ولا يستبعد من رحمة الله ولطفه أن صاحب هذه الجنة – التي أحيط بها – تحسنت حاله، ورزقه الله الإنابة إليه، وراجع رشده، وذهب تمرده وطغيانه، بدليل أنه أظهر الندم على شركه بربه، وأن الله أذهب عنه ما يطغيه، وعاقبه في الدنيا، وإذا أراد الله بعبد خيرا عجل له العقوبة في الدنيا، وفضل الله لا تحيط به الأوهام والعقول، ولا ينكره إلا ظالم جهول.
“Bukan tidak mungkin, berkat rahmat dan kebaikan Allah, kondisi pemilik kebun menjadi membaik meski dengan segala yang menghimpitnya, Allah memberinya tobat, ia kembali sadar, dan lenyaplah pembangkangan serta kezalimannya. Buktinya, ia menyesali perbuatannya yang menyekutukan Rabbnya, dan Allah menghapuskan darinya dosa-dosanya, lalu menghukumnya di dunia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan mempercepat hukumannya di dunia. Sedangkan keutamaan Allah tidak mampu dijangkau oleh khayalan dan akal, dan tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang zalim dan bodoh.”
Keterangan As-Si’dy ini memberikan hikmah bahwasanya azab itu dapat memberikan manfaat bahkan kepada seorang yang kafirnya luar biasa. Tentu, ini semua adalah karunia Allah ﷻ. Azab yang diberikan dan menghimpitnya, tak menghalangi Allah ﷻ untuk menerima tobat si pemilik kebun. Justru si pemilik kebun bisa saja terdorong menjadi baik sebab azab itu mengingatkan dirinya untuk bertobat.
Terlebih lagi, Allah ﷻ mengaruniakan si pemilik kebun dengan kehadiran temannya yang mukmin dan berani mengutarakan kebenaran. Seseorang yang dikelilingi oleh teman-teman muslim yang beriman dan kuat tauhidnya serta senantiasa mengajak kepada kebaikan adalah bentuk rahmat dan kebaikan Allah ﷻ. Ini adalah jalan yang mengantarkan kepada surga yang begitu menyenangkan. Sebab perjalanan itu diantarkan oleh teman-teman satu circle.
As-Si’dy memberikan peluang pertobatan dan keselamatan kepada pemilik kebun berdasarkan indikasi yang ada. Indikasi yang ada di antaranya adalah penyesalan yang teramat di sisinya. Ia sangat menyesal mengapa ia menyepelekan Allah ﷻ. Hal ini juga didukung bahwasanya Allah ﷻ memiliki rahmat yang tiada terjangkau oleh akal pikiran. Rahmatnya mendahului murkanya. Maka, ini adalah kesimpulan yang secara umum dapat diterima. Sekaligus memberikan faidah bahwasanya selalu ada kesempatan bagi siapapun untuk bertobat kepada Allah ﷻ.
Kalimat pamungkas
Di bagian akhir, Allah ﷻ tutup kisahnya dengan firman-Nya,
هُنَالِكَ الْوَلَايَةُ لِلَّهِ الْحَقِّ هُوَ خَيْرٌ ثَوَابًا وَخَيْرٌ عُقْبًا
“Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.” (QS. Al-Kahfi: 44)
Allah ﷻ menegaskan fakta atas diri-Nya adalah satu-satunya Zat yang bisa memberikan pertolongan di hari akhirat. Semuanya tidak memiliki kemampuan menolong, kecuali hal itu bersandar pada pertolongan Allah ﷻ. Tiada satupun syafaat yang tersampaikan kecuali sudah diizinkan oleh Allah ﷻ.
Maka, rangkaian dialog ini ditutup dengan sangat apik. Sebuah kalimat pamungkas yang menegaskan pernyataan yang benar, sekaligus menyimpulkan seluruh cerita semuanya. Tidaklah kita berharap kecuali balasan surga di akhirat. Dan tidaklah kita mengharapkan kecuali perlindungan Allah ﷻ dari balasan berupa neraka yang menyala-nyala.
Keseluruhan dialog mukmin dan kafir tentang harta memberikan faidah di antaranya:
Pertama: Gaya kafir dari zaman ke zaman selalu mempunyai benang merah kesombongan karena ketidaktahuannya akan hakikat dunia.
Kedua: Cara berargumentasi mukmin: mengingatkan hakikat manusia yang diciptakan dari kehinaan dan kerendahan, yakni dari mani air yang hina. Dalam proses dari air hina menjadi makhluk sempurna, itu semua terjadi karena kuasa Allah ﷻ.
Ketiga: Mukmin harus pede mendakwahkan kebenaran, sebagaimana orang kafir pede dengan kekufurannya. Lihatlah ketika mukmin menyerukan, “Mengapa engkau tidak bilang masyaAllah?”
Keempat: Muslim harus punya izzah di hadapan orang kafir bahwa ia tidak mengandalkan dan menyandarkan kekayaan, kecuali kepada Allah ﷻ.
Kelima: Jangan takabur hanya karena memiliki dunia. Kesombongan kafir karena memiliki dunia tidak ada gunanya karena tidak ada yang dapat membela hamba kecuali Allah.
Keenam: Optimis dengan rezeki dunia atas iman yang Allah berikan. Dengan doa penuh harap sebagaimana yang disebutkan dalam ayat.
Ketujuh: Mukmin boleh mendoakan keburukan kepada orang yang terlampau sombong dan kufur kepada Allah ﷻ.
Semoga Allah ﷻ senantiasa memampukan kita untuk menggali faidah dari kisah dan permisalan yang disampaikan dalam kitab-Nya. Semoga Allah ﷻ menjadikan pemahaman kami benar dan selamat dari pemahaman yang salah. Semoga Allah ﷻ merahmati para ulama yang telah mendahului kita menambang emas Islam. Semoga Allah ﷻ meneguhkan lisan kita dalam mendialogkan agama kepada orang-orang.
[Selesai]
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Muslim.or.id
Artikel asli: https://muslim.or.id/111449-tafsir-surah-al-kahfi-ayat-32-44-bag-3.html